Assalamu’alaikum..

Mohon maaf,,

karena kesibukan menghadapi tahun ajaran baru, dengan segala kesibukan di perencanaan, kami baru memulai kembali aktifitas menulis di blog Akper Subang.

Banyak sekali komentar – komentar seputar kondisi Akper Subang beserta perangkat yang ada di dalamnya,  mendapatkan masukan dan saran. Insya alloh, kami akan berusaha untuk lebih baik lagi.

Sukses untuk semua mahasiswa Akper Subang tercinta, mari kita bangun Akper Subang menuju arah yang lebih baik, tentunya. Karena perangkat yang ada di Akper Subang harus bekerjasama, secara berkesinambungan, meningkatkan kualitas Akper Subang secara keseluruhan.

Akper Subang, tampil berprestasi !!

Subang, maju !!

 

Komentar
  1. usep mengatakan:

    tolong di masukin foto2 prestasi akper subang di bidang olah raganya supaya semua orang tau selain sukses di bidang keperawatan juga sukses di bidang olah raganya………..

  2. zuber mengatakan:

    usep saya setuju dengan pendapat anda karena sudah terbukti akper subang dapat berprestasi di bidang futsal atau sepak bola………..
    aku takan pernah malu mangakui kuliah di akper subang karena pada saat ini kita disegani dalam bidnang futsal, coach zuber

    • bed_h2p mengatakan:

      yah sayapun setuju akan pendapat dr coach juber,tntunya trm ksh kpda dsen2 akper yg tlah mnsuport kami d bdng olh rg trtma ftsal,,,
      tp saran saya spya d tmbhkan lg fsltas olh raga’y,krna tk ad prestasi yg cmerlang klau tnp d dkung oleh lthan yg serius,,,,,,beck11

  3. debby mengatakan:

    di test engga yah..klo masuk akper??
    mohon jawaban nyaa…..

    • akpersubang mengatakan:

      Terima kasih atas kunjungannya ke blog kami,
      tentunya untuk masuk Akper Pemkan Subang melalui beberapa tahapan test, muali dari test tulis, test psikologi, dan test kesehatan.
      Biasanya pendaftaran mulai bulan Mei, untuk informasi lebih lanjut bisa ditanyakan langsung ke Kampus Akper Pemkab Subang,
      regards :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

HARI KEPERAWATAN INTERNASIONAL / INTERNATIONAL NURSES DAY

Assalamu’alaikum.. rekan sejawat yang terhormat, mahasiswa Akper Pemerintah Kabupaten Subang yang selalu menjadi kebanggaan..
Hari Jadi Perawat, baik yang diperingati secara nasional ataupun internasional, mungkin belum banyak diketahui. Artikel ini sedikit mengungkap “hari jadi” perawat baik secara nasional (PPNI / Persatuan Perawat Nasional Indonesia) serta internasional (ICN / International Council of Nurses).
Keberadaan Wadah organisasi profesi keperawatan Indonesia yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) diawali adanya suatu proses dan perjuangan melalui pendidikan keperawatan. Perkembangan keperawatan sejak kemerdekaan sampai dengan awal tahun 1960-an.

PPNI didirikan pada tanggal 17 Maret 1974 yang kepengurusannya terdiri dari : 1 Pengurus Pusat PPNI berkedudukan di Ibu Kota Negara, 32 Pengurus PPNI Propinsi, 362 Pengurus PPNI Kabupaten/Kota dan lebih dari 2500 Pengurus Komisariat (tempat kerja) yang menghimpun ratusan ribu perawat Indonesia baik yang berada di Indonesia maupun di Luar Negeri, saat ini sudah dibentuk INNA-K (Indonesian National Nurses Association in Kuwait). PPNI, sejak Juni 2003 telah menjadi anggota ICN (International Council of Nurses) yang ke 125 dengan visi sebagai corong suara yang kuat bagi komunitas keperawatan dan berkomitmen tinggi untuk memberikan pelayanan/asuhan keperawatan yang kompeten, aman dan bermutu bagi masyarakat luas.

Dalam usianya ke 36 PPNI saat ini telah berkembang menjadi Organisasi Profesi yang diperhitungkan oleh berbagai stakeholder, bersama jaringan Internalnya Pengurus 32 Propinsi, 402 kab/kota dan lebih dari 2500 komisariat/pengurusan di tempat kerja dan cabang Istimewa yang ada diluar negeri, juga jaringan eksternal Asosiasi- Perawat Internasional International Council of Nurses (ICN), Asosiasi perawat di berbagai negara, badan-badan dunia yang terkait, lembaga donor dan LSM-LSM dalam dan luar negeri. Dan tidak kalah Penting PPNI menjadikan Stake holder Utama adalah Pemerintah dan DPR untuk bersama-sama membangun Keperawatan Indonesia yang berkualitas, bermartabat dan dihargai di dalam maupun diluar negeri. Tema yang diusung pada peringatan HUT 36 PPNI adalah “Kontribusi Perawat dalam pembangunan kesehatan bangsa melalui penataan Profesi Perawat dengan Undang-Undang Keperawatan”. Sebagaimana telah banyak disosialisasikan terkait tujuan dari Undang Undang Keperawatan yaitu perlindungan dan kepastian hukum pada masyarakat dan perawat, serta peningkatan kualitas pelayanan perawat.

Sedangkan, organisasi perawat internasional yang disebut International Council of Nurses [ICN] atau Konsil Keperawatan Internasional [KKI] adalah sebuah federasi yang beranggotakan asosiasi-asosiasi perawat nasional [NNAs] dari 133 negara di dunia dan merupakan representasi dari jutaan perawat di seluruh dunia. ICN bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi yang menjadi anggotanya terkait berbagai issue penting pada profesi keperawatan.
ICN tidak memiliki keanggotaan secara perseorangan. Para perawat yang telah terdaftar dalam asosiasi perawat nasional dari suatu negara secara otomatis terdaftar juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ICN. Misi ICN adalah sebagai representasi dari profesi perawat dalam tatanan internasional dan terlibat secara aktif dalam mempengaruhi kebijakan kesehatan di seluruh dunia. ICN bekerja dalam tiga [3] area program utama, yang dikenal sebagai Pilar ICN, yaitu: Praktik Keperawatan Profesional, Regulasi, dan Kesejahteraan Sosial Ekonomi. Ketiga Pilar ICN tersebut berfokus pada tujuan untuk memperbaiki kesenjangan yang masih terjadi dalam area keperawatan dan kesehatan. Kode Etik ICN merupakan dasar pijakan bagi Kode Etik asosiasi perawat nasional dari seluruh dunia.

ICN bekerja dalam banyak area, terutama dalam memberikan panduan dalam Praktik Keperawatan Profesional, Perumusan Regulasi, dan peningkatan Kesejahteraan Sosial Ekonomi pada berbagai negara di dunia, terutama yang berkaitan dengan Standar Keperawatan dan Kebijakan dalam Keperawatan dan Kesehatan di manca negara. ICN menyediakan publikasi dalam skala yang luas terkait issue-issue terkini dan kebijakan-kebijakan yang diambil organisasi bagi anggotanya secara gratis.

Setiap tahun ICN mempublikasikan dan mendiseminasikan seperangkat media untuk dipergunakan dalam peringatan Hari Perawat Sedunia [The International Nurses' Day Kit] yang dilaksanakan secara serentak diberbagai belahan dunia setiap tanggal 12 Mei.

Sejarah hari keperawatan dunia tak lepas dari peran Florence Nightingale. Florence Nightingale (Firenze, Italia, 12 Mei 1820 – 13 Agustus 1910) adalah pelopor perawat modern. Ia dikenali dengan nama The Lady With The Lamp dalam bahasa Inggris yang berarti “Sang Wanita dengan Lampu”. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris.

Florence dilahirkan dalam keluarga berada dan tumbuh sebagai wanita yang menawan dan periang yang mempunyai masa depan yang cerah. Bagaimanapun penderitaan yang dilihatnya semasa peperangan di semenanjung Krim, Rusia, menyebabkan hati Florence Nightingale tersentuh melihat penderitaan tentara yang luka dan dibiarkan saja dalam rumah sakit yang kotor.

Florence Nightingale menghidupkan kembali konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan kiat-kiat juru rawat. Florence Nightingale memberikan penekanan kepada pemerhatian teliti kepada keperluan pasien.

Setiap tahun, pada peringatan Hari Keperawatan Sedunia (International Nurses Day / IND) mengusung tema tertentu yang berbeda setiap tahunnya.

Adapun tema yang diusung ICN untuk memperingati International Nurses Day / IND setiap tahunnya, dipaparkan sebagai berikut :

  • 1988 – Safe Motherhood
  • 1989 – School Health
  • 1990 – Nurses and Environment
  • 1991 – Mental Health – Nurses in Action
  • 1992 – Healthy Aging
  • 1993 – Quality, costs and Nursing
  • 1994 – Healthy Families for Healthy Nation
  • 1995 – Women’s Health: Nurses Pave the Way
  • 1996 – Better Health through Nursing Research
  • 1997 – Healthy Young People = A Brighter Future
  • 1998 – Partnership for Community Health
  • 1999 – Celebrating Nursing’s Past, claiming the future
  • 2000 – Nurses – Always there for you
  • 2001 – Nurses, Always There for You: United Against Violence
  • 2002 – Nurses Always There for You: Caring for Families
  • 2003 – Nurses: Fighting AIDS stigma, working for all
  • 2004 – Nurses: Working with the Poor; Against Poverty
  • 2005 – Nurses for Patients Safety: Targeting counterfeit medicines and substandard medication
  • 2006 – Safe staffing saves lives
  • 2007 – Positive practice environments: Quality workplaces = quality patient care
  • 2008 – Delivering Quality, Serving Communities: Nurses Leading Primary Health Care
  • 2009 – Delivering Quality, Serving Communities: Nurses Leading Care Innovations

Tema IND 2010 adalah Delivering Quality, Serving Communities: Nurses Leading Chronic Care.

And then, what will we do to celebrate this day ??

by : k@rtik@

Komentar
  1. Joko mengatakan:

    Good article…!! thanks v much.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Menyiapkan Perawat yang Siap Berkompetisi di Era Pasar Global (ppnisragen.wordpress.com)

oleh :
Elsi Dwi Hapsari, Afiliasi
Sub Bagian Keperawatan Maternitas
Program Studi Ilmu Keperawatan, PSIK-FK UGM Yogyakarta, Indonesia.
Mahasiswa Program Master pada Department of Maternity Nursing, Faculty of Health Sciences, Kobe University School of Medicine, Japan (http://io.ppi-jepang.org)


1. Pendahuluan

Beberapa tahun terakhir ini, pengiriman tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri, khususnya perawat, menjadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai kalangan. Di tengah semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik dari tahun ke tahun1), tentu merupakan hal yang melegakan bahwa perawat dari Indonesia dilaporkan berpeluang bekerja di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Benua Eropa (Inggris, Belanda, Norwegia), Timur Tengah (Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait) dan kawasan Asia Tenggara (Singapura, Malaysia). Jumlah permintaan berkisar antara 30 orang sampai dengan tidak terbatas).

Kekurangan perawat di dalam negeri merupakan alasan utama negara-negara tersebut untuk menerima tenaga dari luar negeri. Di AS, misalnya, pada 2005 mengalami kekurangan 150.000 perawat, pada 2010 jumlah tersebut menjadi 275.000, pada 2015 sejumlah 507.000, dan pada 2020 menjadi 808.000 perawat. Namun demikian, kekurangan tersebut tersebut menyebabkan mereka lebih berfokus pada bagaimana menghasilkan perawat yang lebih banyak, bukan untuk mencetak perawat yang berpendidikan lebih baik6).

Di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan kesehatan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang)4). Meskipun jumlah perawat yang bekerja di luar negeri menempati prosentase terbesar dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, masih terdapat beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian dan ditanggulangi mulai dari saat ini.

Tulisan ini mengulas secara singkat tentang persyaratan/ kompetensi yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri, kendala yang muncul dalam proses persiapan pengiriman tenaga perawat Indonesia ke luar negeri, hasil review laporan penelitian tentang perawat yang bekerja di luar negeri dan kemudian penulis mencoba mengidenfikasi peran penting lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia agar dapat mempersiapkan perawat yang siap berkompetisi di era pasar global. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi dan sumbang saran bagi berbagai pihak terkait, terutama bagi lembaga pendidikan keperawatan dan tenaga pendidik perawat di berbagai jenjang pendidikan di tanah air.

2. Persyaratan untuk Bekerja di Luar Negeri Bagi Perawat
Pada umumnya persyaratan yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri adalah lulusan Diploma III Keperawatan dengan dua tahun pengalaman kerja5). Selain itu juga terdapat batasan usia, misalnya untuk dapat bekerja di Uni Emirat Arab atau Kuwait, perawat harus berusia kurang dari 35 tahun. Kemampuan berbahasa Inggris disyaratkan pada beberapa negara seperti Inggris (skor IELTS 6) atau AS (skor TOEFL 540). Syarat penting lainnya adalah lolos ujian NLEX (National Licence Examination).

Melihat persyaratan yang harus dipenuhi tersebut, kita dapat mengasumsikan bahwa tenaga perawat yang bekerja di luar negeri tentu merupakan perawat pilihan dan mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan dalam memberikan perawatan yang berkualitas.

Implikasi dari hal tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Pada satu sisi, perginya perawat yang berkualitas ke luar negeri merupakan suatu keuntungan karena suatu saat mereka akan kembali ke negeri kita dengan memperoleh banyak pengalaman, meningkatnya ketrampilan, dan dapat mengidentifikasi aspek-aspek positif dari negara tempat mereka bekerja. Mereka kemudian dapat menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka peroleh sehingga diharapkan pada akhirnya kualitas keperawatan di Indonesia pun meningkat.

Namun demikian, di sisi lain hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa masyarakat kita menerima pelayanan keperawatan dari tenaga perawat dengan kualitas yang berbeda. Lebih lanjut, rasio jumlah perawat Indonesia per 100.000 penduduk masih jauh di bawah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, atau Thailand. Di Indonesia, terdapat 44 perawat per 100.000, bandingkan dengan 135 perawat di Malaysia, 442 perawat di Filipina, atau 162 perawat di Thailand).

Selain itu, kekhawatiran terjadinya brain drain juga perlu dicermati. Brain drain adalah berpindahnya tenaga profesional yang terampil dari negara asal ke negara lain dimana mereka dapat memperoleh lebih banyak keuntungan seperti keuangan. Di Filipina, misalnya, yang merupakan salah satu pengirim tenaga perawat terbesar, kekhawatiran tersebut mulai terjadi. Bahkan di sana, tenaga kerja dari profesi lain pun sangat berminat untuk belajar menjadi perawat agar selanjutnya dapat bekerja di luar negeri8).

Tetapi usaha mencegah perawat untuk bekerja di luar negeri dapat menimbulkan pertanyaan, misalnya tentang hak asasi untuk bekerja dan juga menghilangkan kesempatan untuk dapat belajar pengetahuan dan ketrampilan yang berguna dari negara lain untuk selanjutnya diaplikasikan di negara asal9).

3. Kendala Pada Proses Persiapan Pengiriman Tenaga Perawat
Dari beberapa laporan diketahui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh para perawat Indonesia adalah kemampuan berbahasa Inggris dan ketrampilan yang masih kurang3,11). Berkenaan dengan ketrampilan perawat Indonesia yang masih kurang, terlihat dari segi skoring NLEX yang masih rendah. Ujian NLEX sendiri merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar negeri. Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia adalah angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja di Eropa antara 50 sampai 70 dan di AS antara 70 sampai 803). Dua hal tersebut tampaknya perlu untuk segera ditanggulangi selain faktor-faktor lain yang belum teridentifikasi dalam tulisan ini. Beranjak dari hal inilah sebenarnya lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia dapat mulai ikut berperan aktif dalam merumuskan strategi yang tepat dalam mendidik calon perawat.

4. Laporan Penelitian Tentang Pengalaman Perawat yang Bekerja di Luar Negeri
Laporan tentang pengalaman perawat yang berkerja di luar negeri perlu disampaikan dalam tulisan ini agar kita dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Sampai saat ini penulis belum menemukan laporan penelitian yang terkait dengan pengalaman perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri. Di lain pihak, kebanyakan laporan penelitian di negara lain terkait topik tersebut menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dilaporkan bahwa alasan yang mendorong seorang perawat untuk bekerja di luar negeri antara lain gaji yang lebih tinggi, prospek karir dan pendidikan yang lebih menjanjikan).

Pada review penelitian oleh Magnusdottir (2005), penelitian Yi & Jezewski (2000) tentang penyesuaian diri 12 Perawat Korea yang bekerja di rumah sakit di AS melaporkan bahwa pada 2-3 tahun pertama mereka bekerja ditandai dengan usaha mengurangi stress psikologis, mengatasi kendala bahasa, dan menyesuaikan diri dengan praktek keperawatan di USA. Kemudian pada 5 – 10 tahun kemudian ditandai dengan belajar mengadopsi strategi penyelesaian masalah menurut budaya AS dan memelihara hubungan interpersonal. Mereka yang berhasil dalam proses tersebut dilaporkan merasa puas).

Masih dari laporan yang sama, DiCicco-Bloom (2004) melaporkan bawa perawat India yang bekerja di AS mengidentifikasi bahwa rasisme dan marginalisasi merupakan issue utama selama mereka bekerja di sana. Hasil penelitian Allan & Larsen (2003) di Inggris menyebutkan bahwa perawat luar negeri yang bekerja di negara tersebut mengalami diskriminasi, eksploitasi, diasingkan oleh rekan kerja, konflik di tempat kerja, dan masalah bahasa).

Beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan cukup banyak tantangan yang dihadapi oleh perawat yang bekerja di negara lain. Hal ini semakin menegaskan diperlukannya berbagai antisipasi dan persiapan yang matang bagi perawat sebelum mereka berangkat ke negeri tujuan.

5.Peran Lembaga Pendidikan Keperawatan
Adanya kesempatan bagi perawat yang bekerja di luar negeri dapat dilihat sebagai faktor pencetus bagi lembaga pendidikan keperawatan untuk dapat meluluskan perawat berkualitas, yang memenuhi tuntutan masyarakat di dalam dan luar negeri, dan mempunyai kemampuan untuk bekerja lintas negara dengan sistem perawatan kesehatan dan karakteristik masyarakat yang berbeda.
Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan sekitar 200 suku dan 500 bahasa sebenarnya merupakan tempat pembelajaran yang sangat potensial bukan hanya bagi para peserta didik namun juga bagi para tenaga pendidik. Meskipun nantinya mereka bekerja di luar negeri dan menghadapi budaya dan sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, namun setidaknya mereka telah mulai belajar dari hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Dua strategi utama yang perlu dilaksanakan di lembaga pendidikan keperawatan adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan keperawatan. Agar dapat mencetak tenaga perawat yang berkualitas internasional, tentu tenaga pendidik perlu menjadikan dirinya sebagai model perawat yang berkompeten. Kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu pada tingkat dan derajat kualitas yang diharapkan. Diakui bukan hal yang mudah untuk mencapai standar ini namun bukan berarti tidak dapat dimulai. Kemauan untuk terus belajar, baik yang terkait dengan bidang yang ditekuni maupun yang di luar bidang tersebut, dan terus meningkatkan kemampuan berbahasa asing merupakan modal yang perlu dikuasai. Pendidik juga dituntut untuk mengaplikasikan strategi mengajar yang dapat mengembangkan pola berpikir kritis pada calon perawat sehingga mereka dapat bekerja di komunitas suku dan budaya yang beragam.

Strategi yang menyangkut pendidikan keperawatan meliputi upaya peningkatan fasilitas pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memperoleh ilmu seluas mungkin. Kesan bahwa banyak pendidikan keperawatan yang cenderung “kejar setoran saja” perlu dibenahi. Ada banyak hal yang dapat dilakukan misalnya dengan melengkapi inventaris perpustakaan, berlangganan jurnal-jurnal keperawatan, dan membina kerja sama dengan rumah sakit dan komunitas.

Selain itu, sudah diketahui bahwa kesadaran masyarakat tentang pelayanan kesehatan yang berkualitas semakin tinggi. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pun perlu lebih menyiapkan para mahasiswanya agar pada saat kontak langsung dengan masyarakat (baik di rumah sakit ataupun di komunitas) mereka telah mempunyai bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup. Fasilitas laboratorium yang kondisinya persis dengan rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan menjadi hal yang sangat perlu untuk dikembangkan di lembaga pendidikan keperawatan. Di tempat tersebut mahasiswa berlatih pengetahuan dan ketrampilan sampai pada tingkat yang diharapkan. Baru kemudian setelah dinyatakan lulus, mereka dapat mempraktekkannya di rumah sakit dan atau komunitas.

Strategi lainnya adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lain untuk meningkatkan kualitas lulusan. Hal ini telah mulai dilakukan di beberapa lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia, yaitu kerja sama membuat semacam unit pelatihan untuk persiapan perawat bekerja di luar negeri dan merintis pembuatan kurikulum berstandar internasional. Dalam pembuatan kurikulum tersebut, tidak dapat diasumsikan bahwa nilai-nilai yang ada dalam kurikulum suatu negara dapat serta-merta diaplikasikan di negara yang lain, sehingga dibutuhkan saling pengertian, saling menghargai, dan tidak kalah penting, keinginan untuk saling belajar nilai-nilai dari negara masing-masing.

Program pertukaran tenaga pendidik dan mahasiswa keperawatan dari satu institusi ke institusi lain di dalam negeri maupun dengan institusi dari luar negeri perlu untuk dipertimbangkan. Hal ini dapat membantu mereka untuk memperoleh gambaran masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan yang berbeda. Namun demikian, tidak semua lembaga pendidikan dapat melaksanakan hal ini, terutama karena adanya kendala keuangan dalam pelaksanaannya. Salah satu alternatif untuk mengatasinya adalah dengan mengoptimalkan penggunaan internet14). Tanpa harus melakukan perjalanan ke negara lain, tenaga pendidik maupun peserta didik dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan meskipun mungkin dalam prosentase yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan melakukan observasi secara langsung. Selain itu, menghadiri ataupun mengadakan acara konferensi ilmiah, seminar, atau simposium berskala nasional maupun internasional perlu dilakukan untuk membuat dan membina jaringan dengan pihak lain.

Segala kegiatan dan strategi yang dilaksanakan perlu dievaluasi secara terus-menerus. Penelitian ilmiah baik oleh tenaga pendidik secara individual maupun secara kelembagaan perlu untuk dilakukan dan dikembangkan sehingga kebijakan yang diambil selanjutnya mempunyai pijakan yang kuat dan bukan hanya berdasarkan asumsi. Terakhir, peran penting lembaga pendidikan keperawatan yang telah teridentifikasi dalam tulisan ini tidak akan mencapai hasil yang optimal bila tidak diimbangi oleh dukungan, strategi atau kebijakan yang seiring dari pemerintah, organisasi profesi, maupun masyarakat.

6. Kesimpulan
Adanya peluang untuk bekerja di luar negeri bagi tenaga perawat Indonesia merupakan hal yang menggembirakan sekaligus dapat dijadikan momentum untuk meningkatan kualitas perawat Indonesia. Lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia mempunyai peran penting dalam mempersiapkan perawat berkualitas dan yang mampu bersaing di era pasar global.

7. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kobe dan dr. Thohar Arifin atas saran dan masukan yang sangat berharga pada tulisan ini.

7. Daftar Pustaka
1. Jumlah Pengangguran Terdidik Bertambah. Website URL http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/04/ked11.htm
2. Arab Saudi Butuh 500 Tenaga Medis asal Indonesia. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/ragam.php3?id=12
3. Terbuka Lebar Peluang Kerja Perawat di Amerika, Arab dan Eropa. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/ragam.php3?id=10
4. Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan Luar Negeri. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/profil/puspronakes.php3
5. Analisa Pasar Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia di Berbagai Negara. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/data/pasar.php3
6. Bartels, J.E. Educating Nurses for the 21st Century. Nursing and Health Sciences (2005), 7, 221-225.
7. Press Release Pelepasan Perawat ke Amerika Serikat. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/data/sekilasinfo.php3?id=17
8. Basic Data of Human Resources for Health: Density of all nurses per 100 000 population. Website URL http://www.who.int/globalatlas/dataQuery/reportData.asp?rptType=1(last updated 26 October 2004)
9. Perawat, Dokter Filipina Berbondong-bondong ke Luar Negeri. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/utama.php3?id=26
10. Robinson, J.J.A. Nurse Education and Nursing Mobility. International Nursing Review, 2004, 51, hal. 65-66.
11. Kualitas Perawat Harus Ditingkatkan. Website URL http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/01/1101.htm
12. Buchan, J. & Calman, L. Summary of The Global Shortage of Registered Nurses: An Overview of Issues and Action. International Council of Nurses. Website URL http://www.icn.ch/global/summary.pdf#search=’rationursepopulation’
13. Magnusdottir, H. Overcoming Strangeness and Communication Barriers: A Phenomenological Study of Becoming A Foreign Nurse. International Nursing Review, 2005, 52, hal. 263-269.
14. Menasionalkan Sastra Indonesia. Website URL http://www.kompas.com/kompas-cetak/0010/07/dikbud/mena08.htm
15. Davis, D., Stullenbarger, E., Dearman, C., et al. Proposed Nurse Educator Competencies: Development and Validation of A Model. Nurse Outlook 2005; 53:206-211.
16. Gerrish, K. The Globalization of the Nursing Workforce: Implications for Education. International Nursing Review, 2004, 51, hal. 65

Komentar
  1. dina trisnawati mengatakan:

    bekerja diluar negri bersaing dengan negara2 asia jd saran saya no bahasa inggris dikuasai karana dengan bahasa inggris kita berkomunikasi dgn healthpracticer

    • akpersubang mengatakan:

      ok, tx.. sejauh ini, kami berusaha untuk mengembangkan kurikulum MULOK tidak hanya diisi dengan Praktek Klinik Keperawatan, sejak kurikulum KBK diterapkan, kami sudah mengisi MULOK dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab yang sudah berjalan 2 semester, dengan besar harapan bahwa hal tsb dpt menjadi bekal bagi alumni di dunia kerja.
      Btw, kemarin sosialisasi ttg bekerja di Arab Saudi dan Taiwan sudah difasilitasi oleh Disnaker, tp masih bnyk yg ketakutan dan merasa khawatir jika harus bekerja di luar negeri.
      Klo Dina tdk keberatan, tlg kirim artikel (lebih bagus lagi jika disertai foto) mengenai kegiatan keseharian bekerja di LN beserta kesan2nya, agar dpt memotivasi adik2 kelas yg masih ragu utk memilih bekerja jauh dari Indonesia tercinta..

  2. syaidin isaf mengatakan:

    satu lagi….ilmu agamanya lebih dipertajam , supaya menjadi perawat yang sukses dunia rawu akherat…..

  3. emy mengatakan:

    selain skill keperawatan yang bagus, belajar bahasa inggris , budaya negara yang akan dituju

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Selayang pandang Akper Subang

Akademi Keperawatan (Akper) Kabupaten Subang merupakan konversi dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Pemda Subang. Mulai menerima calon mahasiswa pada tahun ajaran 1996/1997.

Hingga kini, menapaki usia 13 tahun, Akper Kabupaten Subang telah meluluskan 11 angkatan kelas reguler (mahasiswa dengan latar belakang pendidikan SMA sederajat), 2 angkatan program khusus RSUD Kab. Subang, 2 angkatan kelas khusus Puskesmas, serta 1 angkatan kelas khusus RS II PTPN Subang.

Picture 050

Seiring dengan perkembangan pendidikan nasional, Akper Kabupaten Subang bergerak menuju BHPP (Badan Hukum Pendidikan Pemerintah) pada tahun 2010 dengan dukungan sepenuhnya dari masyarakat Subang.

Kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat Subang, memicu pengelola akademik dan tata usaha di lingkungan Akper Kab. Subang untuk bekerja lebih baik sehingga mampu berkontribusi optimal dalam pembangunan Kabupaten Subang, khususnya Pembangunan Bidang Kesehatan.

Doa yang tulus mengiringi harapan dan upaya kami untuk terus maju dan menjadi lebih baik.

Lokasi Kampus : Jalan Brigjen Katamso No. 37 (Blk RSUD Subang) Nomor Telp / Fax. (0260) 412520.

 

Komentar
  1. iqbal angkatan X mengatakan:

    alhamdulillah akhirnya akper subang ada blognya,,,,,,maju terus akper subang ♥♥♥
    simkuring mahasiwa angkatan X….

  2. dina trisnawati mengatakan:

    maju terus buat akperku tercinta tp boleh comment ya buat kemajuan akper subang sediakan prasarana bahasa inggris buat akper yg nanti kelak mungkin ade2ku mu kerja diluarnegri and dosen2 yg qualified

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s